Senin, 12 Oktober 2009

Demokrasi

Demokrasi, demos dan cretes, semua orang tau apa artinya. Tapi pengejawentahannya nihil belaka. Demokrasi macam apa ketika pemikiran lain tidak boleh duduk berdampingan, demokrasi macam apa ketika kreasi dijegal oleh standarisasi cita rasa, membakukannya pada lembaga. Merekayasa setiap bentuk perbedaan menjadi pembedaan, mengerucutkan pandangan menjadi tuduhan. Dengan tujuan yang paling utama, menukar lara menjadi rupiah.

Wahai makna, engkau sukses mengiringku pada labirin kosakata, tanda baca, rupa warna, purna rasa. Darinya aku mengerti kawanan manusia di lingkup mayapadha. Rebutan warna, riuh suara, dan gelimang nira citra. Tapi bulumataku selalu membelai kelopak mata ini yang seakan berbisik. “ Itu dusta, lihatlah fondasi rupiah diatas gelimangan darah saudara kita yang pada mati untuk sebuah kata: peradaban . “